METUAKAN, TRADISI MINUM ARAK KHAS BALI

Tradisi metuakan atau minum arak khas Bali adalah salah satu tradisi yang sudah terkenal sejak dahulu, tradisi ini berasal dari salah satu daerah di bali yaitu Karangasem. Karangasem merupakan penghasil tuak terbesar di Bali. Hampir di setiap desa bisa dijumpai warga yang berprofesi sebagai pembuat tuak dan penjual tuak bahkan hampir di setiap warung bisa ditemui warga yang sekedar bercengkrama sambil menikmati tuak. Tuak dari karangasem ini juga dijual di daerah-daerah di luar Karangasem.

genjek

Tuak dibuat dari sadapan pohon jake (enau), nyuh (kelapa) dan ental (lontar). Dari sanalah kemudian muncul istilah tuak jake, tuak nyuh dan tuak ental. Tuak-tuak ini dibuat di dekat pohon-pohon yang menjadi sumber sadapan tersebut. Tuak yang baru turun dari pohonnya akan terasa manis maka untuk membuatnya terasa gurih tuak dicampur dengan ramuan khusus yaitu lau. Lau merupakan olahan dari serbuk kayu Kutat dan dicampur dengan serbuk kulit pohon tabia bun (cabe rambat, cabe khas Bali). Tuak berbeda dengan arak pada umumnya karena tuak tidak berumur panjang. Jika didiamkan lama maka tuak ini akan menjadi cuka. Maka dari itu orang di Karangasem Bali lebih menyukai tuak yang baru turun dari pohon.

genjekdanmetuakan_300

11098668_930440720328833_1980532729_n

Sekehe-sekehe metuakan atau kelompok-kelompok metuakan akan dengan mudah dijumpai di daerah Karangasem yang terdiri dari 3-5 orang. Kelompok ini biasanya terpisah antara kelompok orang tua dengan anak muda, karena terkadang topik pembicaraan antara anak muda dan orang tua tidak sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s