YANG UNIK DARI PURA DI TENGAH HUTAN, ALAS KEDATON BALI

Daya tarik pulau Bali tidak hanya terbatas karena memiliki pemandangan alam indah, tapi juga karena keunikan budaya dan tradisinya. Seperti salah satunya yang digelar pada saat piodalan di Pura Kahyangan Kedaton, ada sebuah tradisi unik dan menarik dinamakan tradisi “Ngerebeg”.

Tempat pelaksanaan tradisi yang unik ini yaitu di Pura Dalem Kedaton yang terletak di kawasan objek wisata Alas Kedaton, desa Kukuh. Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan Bali. Kawasan ini dikenal sebagai hutan lindung yang dihuni oleh ratusan kera dan puluhan kalong besar. Lokasi Pura dimana tradisi ini digelar, sangat mudah dijangkau karena berada pada kawasan objek wisata, dari kota Tabanan hanya sekitar 4 km, sedangkan dari Kuta sekitar 40 menit berkendaraan.

Tradisi Ngerebeg di Desa Kukuh_967851

Kata Ngerebeg bermakna suka cita, perayaan yang sudah diwarisi turun temurun ini, bermakna sebagai ungkapan suka cita. Juga bisa bermakna sebagai simbol melepas hawa nafsu. Maka dari itu dalam pelaksanaan prosesi ini, sorak membahana serta ungkapan perasaan suka cita terlihat jelas dan alhasil setiap perayaan tersebut sempurna dan berjalan lancar.

Tradisi Ngrebeg Di Pura Dalem Alas Kedaton _039444

Tradisi Ngerebeg tersebut hanya digelar saat piodalan berlangsung di Pura ini, saat rangkaian seluruh upacara berakhir, sebelum matahari terbenam saat matahari condong ke Barat, suara kentongan (kulkul) terdengar bertalu-talu. Pada saat tersebut para anak-anak remaja yang sudah antusias mengikuti prosesi ini mempersiapkan bahan-bahan sarana Ngerebeg, mereka membawa tedung, tombak, lelontek maupun bandrang, yang tidak kebagian cukup membawa ranting-ranting pohon saja, perlengkapan tersebut nantinya diarak mengitari pura.

Tradisi-Ngerebeg-Di-Pura-Dalam-Khayangan-Kedaton-Desa-Kukuh-Marga-300x225

Setelah prosesi Nerebeg selesai dilanjutkan dan ditutup dengan tarian Pendet yang dibawakan oleh para Pemangku, pemangku menarikan kincang-kincung, dengan posisi berhadap-hadapan terbagi dalam 2 baris, salah satu baris membawa tekor dari daun pisang emas dan baris satunya membawa botol yang berisi tetabuhan, pada saat mereka berpapasan yang satu menuangkan tetabuhan dan satunya menengadahkan tekor, sebagai pertanda upacara ini telah selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s